October 31, 2026

Aplikasi Desktop OCR Berbasis AI dengan Microsoft Foundry (Part 1)

Dokumen hard-copy seperti nota, struk belanja, invoice, KTP, dan surat masih menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. Masalahnya, data-data di dalamnya sulit dipakai ulang. Untuk mencatat satu struk belanja ke dalam sistem yang kita miliki, seseorang harus membaca dan mengetik ulang nama toko, tanggal, daftar barang, pajak, dan total. Proses manual ini sangat lambat dan sangat memungkinkan terjadi salah ketik. Dengan memanfaatkan model AI yang dapat membaca gambar, proses tersebut dapat dilakukan secara otomatis, pengguna cukup memotret atau memilih gambar dokumen, dan aplikasi mengubahnya menjadi data yang siap digunakan oleh sistem.

Microsoft Foundry adalah platform dari Microsoft untuk menggunakan model AI dari satu tempat. Salah satu kemampuannya adalah model vision, yaitu model yang dapat menerima gambar sebagai input dan membaca teks di dalamnya (OCR). Dalam artikel ini, aplikasi hanya perlu mengirim gambar ke Foundry melalui API dan menerima hasilnya. Tidak ada model yang harus dilatih atau diinstall di setiap komputer pengguna. Untuk menghubungkan aplikasi .NET dengan model tersebut, kita hanya perlu menggunakan Microsoft.Extensions.AI, yaitu sebuah library standar sehingga kode aplikasi tidak terikat langsung hanya pada satu provider model tertentu.

Hasil OCR berupa teks mentah atau tidak terstruktur, sedangkan sistem membutuhkan data yang terstruktur. Karena itu, proses tidak berhenti hanya pada pembacaan teks saja. Setiap jenis dokumen memiliki skema field sendiri. Struk belanja memiliki toko, tanggal, dan daftar barang, sedangkan KTP memiliki NIK, nama, dan alamat. Aplikasi pertama-tama menentukan jenis dokumen dari teks, lalu mengisi skema yang sesuai. Hasilnya divalidasi dengan aturan pada code, kemudian ditampilkan di form untuk diperiksa, diedit, dan disetujui oleh pengguna. Dengan cara ini, AI membantu kita untuk menginput data, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan pengguna.


Untuk artikel selengkapnya dapat di download disini. Sedangkan untuk memudahkan dalam memahami isi artikel, maka penulis juga menyertakan dengan full source code project latihan ini, dan dapat di download disini.

Terima kasih

September 12, 2026

Speech to Text dan Text to Speech Dengan Blazor Hybrid

 Speech to Text dan Text to Speech

Azure Speech to Text adalah layanan kecerdasan buatan dari Microsoft yang berfungsi mengubah suara atau ucapan manusia menjadi teks secara otomatis. Teknologi ini memanfaatkan model AI yang sudah dilatih dengan berbagai bahasa dan aksen, sehingga mampu mengenali percakapan secara cukup akurat, baik dari rekaman audio maupun suara langsung melalui mikrofon. Dalam pengembangan aplikasi modern, layanan ini sering digunakan untuk fitur transkripsi meeting, subtitle otomatis, perintah suara, hingga dokumentasi percakapan tanpa perlu mengetik secara manual.

Yang membuat Azure Speech to Text menarik adalah kemudahannya untuk diintegrasikan ke berbagai platform, mulai dari aplikasi web, mobile, hingga desktop. Developer cukup mengirimkan audio ke layanan ini melalui API, lalu hasil teks bisa langsung diproses lebih lanjut, misalnya untuk pencarian, analisis sentimen, atau otomatisasi workflow. Dengan pendekatan berbasis cloud, pengguna juga tidak perlu repot membangun model pengenalan suara sendiri, sehingga proses pengembangan menjadi lebih cepat dan fokus bisa diarahkan ke fitur utama aplikasi.

Sebelum kita mulai mengimplementasikan fitur pada Blazor Hybrid, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyiapkan resource Speech terlebih dahulu di Azure. Resource ini nantinya akan digunakan sebagai layanan utama untuk menjalankan proses Speech to Text pada aplikasi yang akan kita bangun. Pada bagian berikut, kita akan membuat resource Speech di Azure secara bertahap, mulai dari proses pembuatan hingga konfigurasi dasar yang diperlukan agar layanan dapat digunakan dengan baik di dalam aplikasi.



Untuk artikel selengkapnya dapat di download disini. Sedangkan untuk memudahkan dalam memahami isi artikel, maka penulis juga menyertakan dengan full source code project latihan ini, dan dapat di download disini.

Terima kasih

Azure Computer Vision Dengan Blazor Hybrid

 Azure Computer Vision

Azure Computer Vision adalah layanan dari Microsoft yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis gambar atau video. Layanan ini memungkinkan komputer untuk mengenali objek-objek yang ada dalam gambar. Misalnya, ketika diberikan sebuah foto pemandangan atau gambar orang, Azure dapat mengenali berbagai elemen dalam gambar seperti pohon, mobil, atau bahkan aktivitas tertentu. Teknologi yang digunakan, seperti deep learning, dilatih dengan jutaan gambar, sehingga semakin sering digunakan, semakin akurat pula hasil analisisnya.

Selain itu, Azure Computer Vision memiliki kemampuan Optical Character Recognition (OCR), yang memungkinkan layanan ini untuk "membaca" teks yang ada di dalam gambar. Fitur ini sangat berguna ketika ingin mengekstrak teks dari gambar atau dokumen, seperti foto catatan atau poster. Tidak hanya itu, layanan ini juga dapat mengenali wajah dan bahkan mendeteksi emosi yang ada di dalam foto. Dengan demikian, Azure membantu mengubah gambar statis menjadi informasi yang bisa digunakan lebih lanjut.

Yang lebih menarik, Azure Computer Vision dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang. Mulai dari pengidentifikasian produk dalam foto, analisis gambar medis, hingga pembuatan aplikasi yang dapat memahami konteks gambar yang ada di media sosial. Karena menggunakan teknologi cloud, proses analisis dapat dilakukan dengan cepat dan tanpa perlu khawatir soal kapasitas penyimpanan atau pemrosesan data besar. Layanan ini memberikan kemudahan dan kecanggihan dalam memproses gambar dan video secara efisien.


Untuk artikel selengkapnya dapat di download disini. Sedangkan untuk memudahkan dalam memahami isi artikel, maka penulis juga menyertakan dengan full source code project latihan ini, dan dapat di download disini.


Terima kasih


January 13, 2026

Sentiment Analysis dengan Blazor Hybrid dan Azure Open AI -Part III

Sentiment Analysis menggunakan Azure Cognitive Services

Sentiment Analysis Azure Cognitive Services: Layanan ini dirancang khusus untuk menganalisis sentimen dalam teks. Fungsi utamanya adalah menilai apakah teks mengandung emosi atau opini positif, negatif, atau netral. Analisis sentimen ini menggunakan algoritma machine learning yang sudah dilatih dengan data tertentu untuk mengidentifikasi dan mengkategorikan emosi dalam kalimat atau dokumen. Layanan ini sangat cocok untuk aplikasi yang membutuhkan pemahaman cepat mengenai perasaan pengguna atau pelanggan, seperti analisis ulasan produk, feedback pelanggan, atau monitoring media sosial.

Kemampuan utamanya adalah menilai perasaan atau opini yang terkandung dalam teks secara otomatis, dan memberikan skor sentimen serta label (positif, negatif, netral). Ini lebih terstruktur dan terfokus pada pengklasifikasian sentimen, serta analisis konteks dasar. Meskipun sangat akurat dalam analisis sentimen, layanan ini tidak dapat melakukan tugas-tugas yang lebih kompleks seperti percakapan atau generte teks berbasis konteks yang lebih dalam.

Layanan ini sangat mudah diintegrasikan ke dalam aplikasi yang memerlukan analisis sentimen secara otomatis, misalnya dalam sistem feedback pelanggan atau analisis sosial media. Pengguna cukup mengirimkan teks untuk dianalisis, dan hasilnya berupa label atau skor sentimen. API ini lebih sederhana dan lebih fokus pada satu tugas spesifik, yaitu analisis sentimen.



Untuk artikel selengkapnya dapat di download disini. Sedangkan untuk memudahkan dalam memahami isi artikel, maka penulis juga menyertakan dengan full source code project latihan ini, dan dapat di download disini.

Terima kasih

November 24, 2025

Sentiment Analysis dengan Blazor Hybrid dan Azure Open AI -Part II

Setelah berhasil membangun aplikasi sentiment analysis dengan OpenAI untuk menganalisis satu kalimat, kita akan mengembangkan aplikasi ini agar bisa menangani lebih dari satu kalimat atau bahkan file besar, seperti Excel atau CSV, untuk analisis dalam jumlah banyak (bulk analysis). Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah memungkinkan aplikasi menerima input teks dalam bentuk yang lebih fleksibel, seperti beberapa kalimat sekaligus. Pengguna bisa memasukkan beberapa kalimat dalam satu kali input, misalnya dengan memisahkan kalimat-kalimat tersebut menggunakan tanda titik atau koma. Setelah teks tersebut dimasukkan, kita bisa memecahnya menjadi kalimat-kalimat terpisah dan mengirimkan setiap kalimat ke API OpenAI untuk dianalisis. Dengan cara ini, setiap kalimat mendapatkan analisis sentimen tersendiri.

Selain itu, kita bisa menambahkan fitur untuk mengunggah file seperti CSV atau Excel, yang berisi banyak teks untuk dianalisis sekaligus. Ini sangat berguna bagi pengguna yang ingin menganalisis data dalam jumlah besar tanpa harus mengetikkan setiap kalimat secara manual. Untuk mengimplementasikan ini, kita perlu menambahkan fungsi upload file pada antarmuka pengguna (UI) aplikasi. Setelah file diunggah, aplikasi akan membaca teks dari file tersebut misalnya, membaca setiap baris atau kolom yang berisi teks dan mengirimkan data tersebut ke OpenAI untuk dianalisis. Setiap entri dalam file akan diproses satu per satu, dan hasil analisis sentimen akan dikembalikan dalam format yang mudah dipahami, seperti tabel atau file baru yang sudah dilengkapi dengan hasil sentimen.
Untuk memproses data dalam jumlah banyak tanpa membebani server atau API OpenAI, kita bisa menggunakan teknik batch processing atau asinkron. Alih-alih mengirimkan permintaan satu per satu, kita bisa mengelompokkan beberapa kalimat atau baris menjadi satu batch dan mengirimkannya sekaligus. Dengan cara ini, kita dapat mengurangi waktu tunggu dan membuat proses lebih efisien, apalagi jika pengguna mengunggah file dengan ribuan baris teks. Setelah proses selesai, aplikasi bisa menampilkan hasil analisis dalam bentuk yang jelas, misalnya dengan menampilkan daftar kalimat bersama sentimen yang terdeteksi, atau memberikan pengguna opsi untuk mengunduh file hasil analisis.
Di sisi antarmuka, kita perlu menyesuaikan desain aplikasi agar lebih user-friendly. Selain tombol "Analyze" untuk menganalisis teks yang dimasukkan langsung, kita bisa menambahkan tombol "Upload File" untuk pengguna yang ingin menganalisis file CSV atau Excel. Hasil analisis juga bisa ditampilkan dalam format yang mudah dibaca, baik itu berupa tabel interaktif atau file yang bisa diunduh kembali dengan hasil yang sudah diperbarui. Dengan cara ini, aplikasi sentiment analysis yang awalnya hanya untuk satu kalimat kini bisa menangani analisis data dalam jumlah besar secara efisien dan mudah diakses oleh pengguna.


Untuk artikel selengkapnya dapat di download disini. Sedangkan untuk memudahkan dalam memahami isi artikel, maka penulis juga menyertakan dengan full source code project latihan ini, dan dapat di download disini.

Terima kasih

November 22, 2025

Sentiment Analysis dengan Blazor Hybrid dan Azure Open AI

Sentiment Analysis pada OpenAI adalah kemampuan AI untuk memahami dan mengevaluasi emosi yang terkandung dalam sebuah teks. Dengan memanfaatkan Large Language Model / LLM seperti GPT, sistem ini mampu menentukan apakah sebuah pernyataan bersentimen positif, negatif, atau netral. Lebih dari itu, model juga dapat menangkap nuansa emosional yang lebih kompleks, seperti frustrasi, kegembiraan, kekecewaan, kekhawatiran, atau bahkan sarkasme. Hal ini membuat Sentiment Analysis sangat berguna untuk memahami opini dan respons manusia dalam bentuk teks.

Berbeda dengan metode tradisional yang hanya mengandalkan keyword atau rule-based approach, Sentiment Analysis berbasis OpenAI bekerja dengan memahami konteks penuh dari sebuah kalimat. GPT mempertimbangkan struktur kalimat, hubungan antar kalimat, intensitas emosi, serta gaya bahasa, sehingga dapat menafsirkan teks secara lebih natural. Pendekatan ini memungkinkan AI mengenali sentiment bahkan dalam teks yang ambigu, informal, atau panjang dengan berbagai macam perasaan yang bercampur.

Dalam artikel ini, kita akan membahas langkah-langkah secara bertahap untuk membangun aplikasi sentiment analysis menggunakan teknologi Open AI. Kita akan mempelajari cara mengirim teks ke model AI, bagaimana model tersebut menilai sentimen, dan cara menampilkan hasil analisis secara mudah dipahami. Dengan mengikuti tutorial ini, pembaca tidak hanya belajar membuat aplikasi analisis sentimen, tetapi juga memahami konsep dasar bagaimana AI dapat membaca dan memahami emosi manusia melalui teks. Hasil akhirnya adalah sebuah aplikasi yang interaktif, informatif, dan bisa digunakan untuk berbagai keperluan analisis data teks.


Untuk artikel selengkapnya dapat di download disini. Sedangkan untuk memudahkan dalam memahami isi artikel, maka penulis juga menyertakan dengan full source code project latihan ini, dan dapat di download disini.

Terima kasih

October 29, 2025

Membangun ChatBot dengan Blazor Hybrid dan Azure Open AI – Part III

Pada latihan sebelumnya, kita telah berhasil membangun sebuah aplikasi chatbot sederhana yang terintegrasi dengan layanan OpenAI dan kemudian mengembangkannya dengan menambahkan fitur penyimpanan riwayat percakapan (chat history-artikel part II). Fitur ini sangat bermanfaat karena pengguna sering kali ingin meninjau kembali jawaban atau informasi yang telah diberikan sebelumnya tanpa harus mengulang pertanyaan yang sama. Dengan adanya history, pengalaman pengguna menjadi lebih efisien dan interaktif.

Namun, muncul permasalahan baru: bagaimana jika pengguna ingin memisahkan percakapan berdasarkan topik atau konteks tertentu? Misalnya, Session 1 digunakan untuk percakapan seputar dunia coding, sedangkan Session 2 digunakan untuk mendiskusikan berita politik. Jika aplikasi tidak memiliki fitur session atau grouping percakapan, maka seluruh riwayat chat akan tercampur menjadi satu alur panjang. Hal ini tentu akan menyulitkan pengguna ketika ingin mencari percakapan tertentu karena topik-topiknya tidak terorganisir dengan baik.

Oleh karena itu, pada artikel ini akan dijelaskan secara lebih mendalam dan sistematis bagaimana cara membuat fitur Session pada chatbot. Dengan menggunakan pendekatan ini, setiap percakapan dapat dikelompokkan berdasarkan topik, waktu, atau kebutuhan pengguna lainnya. Hasil akhirnya, aplikasi chatbot akan menjadi lebih rapi, terstruktur, profesional, dan jauh lebih nyaman digunakan, terutama untuk pengguna yang sering berdiskusi dengan berbagai konteks berbeda dalam satu aplikasi.


Untuk artikel selengkapnya dapat di download disini. Sedangkan untuk memudahkan dalam memahami isi artikel, maka penulis juga menyertakan dengan full source code project latihan ini, dan dapat di download disini.


Terima kasih